more from
School of the Arts

Alkisah

by Senyawa

supported by
psy_collab
psy_collab thumbnail
psy_collab this was for me personally the greatest discovery here on bc: drone, metal, improvisation, ritual... great music! not to speak of the way of distribution... Favorite track: Istana.
/
  • Streaming + Download

    Includes unlimited streaming via the free Bandcamp app, plus high-quality download in MP3, FLAC and more.
    Purchasable with gift card

      €6 EUR  or more

     

  • Cassette + Digital Album

    All text on the physical release is in Cyrillic. Black cassettes in clear cases, dubbed and assembled in Barcelona and Saint Petersburg. Covers printed on Risograph by Risiko Press in Antwerp, and by Esh Print in Moscow. Each copy is unique and numbered by hand. Unlimited edition.

    NB: If you order more than two School of the Arts items, the shipping after the second tape is free! We will refund any extra shipping charges via PayPal.

    Includes unlimited streaming of Alkisah via the free Bandcamp app, plus high-quality download in MP3, FLAC and more.
    ships out within 3 days

      €9 EUR or more 

     

1.
Kekuasaan 00:41
Apa arti kuasa bila akhir sudah di ujung mata?
2.
Alkisah I 09:01
Alkisah suatu negeri Porak-poranda dilanda api Terguncang-guncang ia oleh tanah tempatnya berdiri Tanahnya subur tapi hangus Pohonnya banyak tapi tandus Airnya mengalir hulu ke hilir Yang haus pun banyak, tak habis pikir Kiri kanan selatan utara Semua bilang, “negeri itu alangkah kayanya!” “Alangkah sayangnya!” Alkisah suatu negeri Tercerai berai dimangsa dengki Tergonjang-ganjing ia oleh congkak, tamaknya sendiri Rajanya hilang entah kemana Rakyatnya bimbang hilang percaya Oh, saling ribut saling berebut Saling sikut tak ada takut Satu salah satu marah Satu kalah satu berulah “woy, macam betul semua kalian tu. Sudah, sudahah!” “Alangkah sayangnya!”
3.
Menuju Muara 03:07
Bergegaslah menuju muara Tanah basah yang kaya udara Meski selamat pada akhirnya Selain kita akan musnah tak berdaya Menjadi debu, arang, hanyut, terlupakan Menjadi legenda yang lambat laun juga akan punah, hilang terkubur zaman Bergegaslah menuju muara Tanah basah yang kaya udara Di sanalah kita beristirahat Membesarkan anak-anak muda Merawat pahlawan yang terluka Menjaga mata air, menanam akar Menggali parit, menjaring garam Menggambar sejarah, melagukan kehilangan Menyucikan sumpah, memberkati ampunan Bergegaslah menuju muara
4.
Istana 06:56 video
Mereka bersembunyi begitu jauh setinggi awan Kokoh terbentengi Di sekelilingnya pagar-pagar bertebaran, kepala-kepala manusia-manusia tak bersalah Berserakan nama-nama pejuang Pejuang-pejuang yang dilupakan Di tengah-tengahnya kolam hitam Pekat akan sisa-sisa bangkai perang dan pertikaian Berceceran bekas darah Darah-darah manusia tak bernama Berguguran harapan-harapan Masa depan yang terarah
5.
Kabau 05:44
Anak nelayan mambaok cangkua Mananam ubi di tanah darek Baban sakoyan dapek dipikua Budi saketek taraso barek Anak ikan dimakan ikan Gadang ditabek anak tenggiri Ameh bukan perak pun bukan Budi saketek rang haragoi Anjalai tumbuah di munggu Sugi-sugi di rumpun padi Supayo pandai rajin baguru Supayo tinggi naikkan budi Alu tataruang patah tigo Samuik tapijak indak mati Tarandam-randam indak basah Tarapuang-apuang indak hanyuik Anyuik labu dek manyauak Hilang kabau dek kubalo Anguak anggak geleng amuah Unjuak nan tidak babarikan
6.
Fasih 03:57
Fasih berteriak: “fasis yang baik adalah fasis yang mati” Tapi menghujat apa-apa yang berbeda paham dari yang kau ikuti Fasih berteriak: “fasis yang baik adalah fasis yang mati” Tapi memaksa apa-apa harus patuhi satu kebenaran yakni yang kau yakini Fasih berteriak: “fasis yang baik adalah fasis yang mati” Tapi membungkam, memaki apapun gagasan yang tak sanggup kau mengerti Fasih berteriak: “fasis yang baik adalah fasis yang mati” Tapi apa-apa harus anut satu arti Fasih berteriak: “fasis yang baik adalah fasis yang mati” Tapi apa-apa harus dibatasi termasuk imajinasi Fasih berteriak: “fasis yang baik adalah fasis yang mati” Tapi meremehkan mereka yang berani memilih cara, jalan sendiri Fasih tak menjadikanmu tak fasis Fasih tak menjadikanmu tak layak ma
7.
Alkisah II 06:34
Alkisah suatu negeri Berbagi dunia dengan kita kini Satu sama lain menyahut “saudaraku” Satu sama lain menyebut “dosamu, masa lalu” Tanah kering menjadi hijau merdu Berpupuk kasih dan sabar akan waktu Menjelma duka dan amarah menjadi petuah Menulari mereka yang terjangkit luka yang sama Orang-orang tua dilindungi Ilmu, riwayat, dan segala warisannya Anak-anak muda diberkati Nurani, badan, akal, segala tindakannya Menghormati hujan dan matahari Memberi arti tiap nyawa tanpa kecuali Alkisah, seindah itu suatu negeri Berbeda meski berbagi dunia dengan kita kini Meski negeri itu sudah tak ada lagi Dibantai tamak dibakar benci Terusir hina dari tanahnya sendiri Oleh segala kerendahan hati Yang ditafsirkan berarti kelemahan diri Karena meremehkan mereka Yang tak peduli akan hujan dan matahari
8.
Kiamat 01:17
“Kiamat sudah dekat!”
9.
10.

about

✳︎ Купить кассету в России: stellage.store/collection/all/product/alkisah

The new album by critically acclaimed Indonesian duo Senyawa is being co-released by 44 different labels worldwide, and School of the Arts presents a Russian version on cassette. It features the full album as well as two extended remixes: Moa Pillar’s 14-minute heavenly ambient and a 24-minute poisonous drone collage by Ivan Zoloto.

Senyawa’s music combines extended vocal techniques of Rully Shabara and homemade instruments built and played by Wukir Suryadi. It exists on the outer edges of primitivism, post-industrial, improv, doom, heavy psych, and drone.

Having a dozen releases under their belt, most notably “Sujud” on Sublime Frequencies and “Menjadi” on Morphine Records, as well as multiple international shows and festival appearances, the band has proven that Indonesian music can be so much more than gamelan exoticism. Shabara approaches Suryadi’s simple folk-like melodies and propulsive noises with a hardcore punk attitude, and the two don’t shy away when things go abstract and meditative. “Alkisah” is jam-packed with heavy mantras charged with both nuance and pressure.

Side B is dedicated to remixes of the original material. The in-house SOTA remix team consisted of the label’s mastering engineer Moa Pillar who reshaped “Kiamat” into his own brand of angelic drone, menacing and blissful at the same time, and boss and curator Ivan Zoloto, whose long remix is a sea of wails and rumbling noises extracted out of “Istana”.

Overall, the release is recommended to anyone who likes: Sun City Girls and any Bishop brothers’ projects, Phurpa, Ghédalia Tazartès, Keiji Haino, Tony Conrad, Stephen O’Malley, etc.

“Tumultuous mix of heavy-metal aggression and free-jazz bedlam” (The New York Times)

“A destructive, scattered, and dramatic record” (The Quietus)

“A symphony of pulverising riffs and guttural roars that sound as if they’ve hatched straight from the fires and slimes of Middle Earth.” (The Wire)

credits

released February 20, 2021

Wukir Suryadi: custom instruments
Rully Shabara: voice, lyrics

Recorded and mixed by Iwan Karak at Eloprogo, September 2020. Soundscape of Eloprogo recorded by Tesaran. Mastered by Cordey Lopez. Minang proverbs on "Kabau" compiled by Taufik Adam. Artwork by Sopeng. Design by Ivan Zoloto.

"Alkisah" is a collective project released by 44 different labels worldwide. Russian edition released by School of the Arts in 2021.“Decentralization should be the future.”
Cat. no. SOTA313.

license

tags

about

Senyawa (Official) Yogyakarta, Indonesia

Rully Shabara and Wukir Suryadi. Voice and Handmade Instruments. Human and Nature. Mind and Soul.

contact / help

Contact Senyawa (Official)

Streaming and
Download help

Redeem code

Report this album or account

If you like Alkisah, you may also like: